Ulang Tahun Pasar Sasen Ke-4

Saling mengunjungi adalah kekuatan. Bertahannya Pasar Sasen hingga 4 tahun ini bertenagakan saling mengunjungi/silaturahmi.

Saat ulang tahun kemarin kita mencoba upaya saling mengunjungi itu secara simultan senyatanya. Mengambil rute Legoroso – Klumprit – Boro. Melelahkan? Iya! Karena memang berupaya menghimpun kekuatan. Sebagai modal untuk berkelanjutan.

Kemajuan teknologi membuat saling mengunjungi tidak melelahkan lagi. Bahkan dengan melihat postingan teman asyik bermain di sungai, seolah kita sudah cukup mengunjungi alam.

Karena rasa tidaklah bohong, apalagi virtual. Petiklah kekuatannya. Nikmati panenannya. Pasar Sasen sudah membuktikannya.

Terima kasih untuk semua.

Foto-foto: Citra Kirana, Mas Edi, Satrio, Bimo

Iklan

Watch “Bu Sum” on YouTube

Kok Jadi Gini? (2)

Kok jadi begini? Pasar Sasen jadi seperti ini, kuat terbentuk oleh siapa yang datang dan apa yang terjadi di pasar perdana.

Pengunjung pertama pagi itu, seorang bapak pesepeda yang sudah cukup umur. Beliau tidak kami kenal. Namun selebihnya, hampir semua pengunjung hari itu kami kenal. Karena teman membawa teman.

Bahkan seorang teman baik kami membawa murid-muridnya turun gunung dari punggung Menoreh ke kaki Merapi. Merekalah Republik Anak Kenalan. Niat mereka ingin belajar tampil main musik perkusi kaleng bekas di pasar.

Itulah penampil musik pertama di Pasar Sasen. Keseruan mereka bermusik tertular ke pengunjung lainnya. Jadilah hari itu kami ber-blekotek bersama.

Setelah empat tahun waktu membentuk kami, di saat kami berefleksi, ternyata semangat putra-putri Kenalan yang susah-payah turun ke Brayut hari itu jadi penyemangat untuk berbagi. Mereka saja mau berbagi tanpa ada balasan apa pun dari kami. Bahkan tidak dari kelebihan dan dengan kemudahan mereka hadir pagi itu.

Terima kasih buat pribadi-pribadi yang penuh harapan dan sedia berbagi hari itu. Semangat kebaikan tumbuhlah terus…

Kok Jadi Gini? (1)

Kok jadi begini? Sebuah kalimat reflektif buat kami. Empat tahun Pasar Sasen dibentuk waktu. Pasar yang awalnya hanyalah ide.

Bermula di awal Januari 2014, seorang teman mengunjungi teman lainnya. Melihat potensi yang dimiliki sang teman, tercetuslah ide: membuat pasar!

Lahan yang memadai dan lokasi di tepi jalan raya menjadi daya tarik pertama. Maka ditetapkanlah awal Maret 2014 sebagai pembukaan pasar perdana.

Sayang, Gunung Kelud mengirimkan debunya sampai ke Jogja. Maka diundurlah rencana Maret menjadi April.

Pasar dibuat terbuka bagi siapa saja. Undangan awal hanyalah berbunyi: siapa saja boleh datang, yang dagang boleh berdagang. Niat hati memang pasar yang akan dibentuk ini bisa jadi wadah berniaga produsen kecil, produsen skala rumah tangga, bukan menjual produk pabrikan.

Dan, Minggu, 6 April 2014, resmi digelarlah Pasar Sasen Perdana di rumah Bapak Nugroho (Brayut, Sleman, Jogja).

Dari secuil ide yang ditanggapi oleh para Sedulur Sasen perdana, berkembanglah bola ide liar Pasar Sasen. Semoga membawa berkah kebaikan bagi semesta.

Kok Jadi Gini? (3)

Kok jadi begini? Ya, beginilah adanya kini.

Seorang sedulur sasen, Jolanda Atmadja, membagikan secuil refleksinya ber-Sasen:

Selama di Sasen, menurut yang kualami,
pribadi-pribadi yang concern, akan mendapati pengalaman bertumbuh secara mandiri-setelah ngliat, ngbaca, nyimak, ngalamin pengalaman-pengalaman ‘milik’ teman yang lain.

Mbak Yo beserta Mas Her (suaminya) dan Nadia (putri mereka) ke Sasen sejak September 2014. Mas Her dan Nadia yang tahun lalu kecelakaan, sempat berbulan-bulan harus berjalan dengan alat bantu. Mereka tetap rutin nyasen. Bahkan beberapa kali mereka sekeluarga mengajak pengunjung Sasen mengenal alam lebih dekat lewat elektronika.

Mas Her bersemangat mengunjungi lokasi kolam cacing sutera milik Sodiq saat Pasar Sasen Boro.

Februari lalu, tanpa pemberitahuan, mereka datang ke Sasen menggotong panel surya dan bercerita tentang penjernih air hujan yang memanfaatkan energi matahari.

Tak peduli siapa yang nanti akan datang hari itu. Tak peduli banyak atau tidak yang akan datang. Tak peduli pula ada tidak yang peduli soal air dan solar cell-nya. Berbagi, ya, berbagi saja.

Semangat itu yang kami syukuri di setiap Sasen. Selalu saja muncul semangat seperti itu dalam bentuk yang berbeda-beda dan dari pribadi yang berbeda pula. Tinggal kita buka mata dan hati mensyukurinya.

Itulah jadinya kini.

Mulai dari nol lagi

Nol, kopong…kosong bukan berarti tidak ada apa-apa.

Namun, memulainya dari nol lagi di tahun 2018 ini. Tetap semangat tetap bersaudara.

Pasar Sasen pertama di tahun 2018. Minggu 7 Januari 2018 di Boro.

Menimba semangat dari pasar klithikan

Pasar Sasen memang meniru pasar tradisional, contohnya pasar klithikan di Godean ini.

Semangat pasar klithikan menjadi inspirasi dan kekuatan. Jelang 4 tahun Pasar sasen di bulan April 2018 nanti, jelas belum setangguh pasar klithikan ini. 

Para pedagang klithikan dengan sepenuh hati menggantungkan hidup di pasarnya. Dengan fasilitas seadanya, tempat yang berpindah-pindah bahkan ramai atau sepi pengunjung pasar seperti bukan halangan. Apalagi soal laku tidaknya dagangan hari ini. Tidak ada yang tahu pasti.

Ketekunan, kepenuhan hati, harapan, cinta dan ngelakoni inilah yang perlu ditimba. Meskipun pasar klithikan ini kerap dicaci, diusir karena menjadi biang kemacetan, kotor, dan semrawut. Bahkan dicurigai menjual barang spanyolan alias separuh nyolong.

Dalam kesederhaan dan kebersahajaannya pasar klithikan sudah memberi penghiburan yang murah bahkan gratis. Pengunjung tak harus beli, bisa menikmati nostalgia juga asah otak saat menjumpai barang dagangan yang digelar.

Pasar klithikan sudah ikut berperan aktif mendaurulang barang bekas bahkan sampah agar bernilai ekonomi lagi. Kalo mau jujur mengakui pasar klithikan bisa jadi obyek wisata.

Ditata dan diberi ruang, dong. Jangan digusur! Apalagi dimusnahkan. Tapi jangan dimasukkan dalam gedung, ya! Nanti sudah tidak menjadi pasar klithikan lagi…

Terima kasih pasar klithikan, semangatmu selalu kutimba.

KOTaOGi sudah setahun

Pasar Sasen Minggir 3 Desember 2017 jadi pengingat Kotaogi lahir di sini setahun yang lalu. Koleksi olah tanam bagi pangan liar alias Kotaogi sebenarnya hanya memanggil kembali budaya ngeramban nenek moyang.

Upaya kecil yang hidup dan menghidupi semoga lestari..

Matahari Bisa Bernyanyi

Pasar Sasen Bejen

5 November 2017

Sungguh, matahari bisa bernyanyi. Tak semata kiasan. Anak-anak pun membuktikannya.

Menikmati suasana dusun.

Matahari tampaknya senang bermain-main dengan kami pagi itu. Habis terik menyengat, lalu mendadak redup. Tak apa, seredup apa pun matahari masih menyisakan cahayanya.

Di mana pun bisa bermain. Di mana pun ada mainan.

Belajar berjalan beriringan dan saling jaga.

Cahaya inilah yang akan ditangkap dengan bantuan ‘kotak ajaib’. Bila kotak yang berisi rangkaian elektronika ini dibuka lebar, terdengarlah suara melengking tinggi. Sebaliknya, bila dibuka malu-malu yang terdengar pun lengkingan lemah.

Serunya bermain dengan kotak ajaib yang membuktikan matahari bisa bernyanyi.

Frekwensi gelombang cahaya matahari bisa ditangkap dan menghasilkan suara. Lalu bermain-mainlah anak-anak dengan kotak ajaib untuk mendapatkan harmonisasi nada sang matahari.

Cahaya matahari mempengaruhi gerak. Robot di sini peraganya.

‘Kotak ajaib’ mampu membuktikan sesuatu. Sesuatu yang sesungguhnya bisa kita sadari tanpa adanya alat sekalipun. Sungguh, matahari bisa bernyanyi, juga mampu jadi pengarah gaya gerak alam ini.

Matahari pun makin tinggi, tanda sudah waktunya memberi makan monster-monster lapar di perut masing-masing.

  • Terima kasih matahari.
  • Terima kasih Sedulur Sasen.
  • Terima kasih Mbak Bungah dan Loka untuk Kandang Bejennya.
  • Terima kasih Mas Herlambang, Mbak Jolanda, dan Nadia untuk berbagi belajar bersama di Sopo Duwe Opo.
  • Terima kasih masak barengnya.
  • Terima kasih makan-minum bersamanya.
  • Terima kasih nonton film Petani -nya.
  • Terima kasih semesta, ada haru, ada rindu di hari itu.

Pasar Sasen Bejen 5 Nov 2017 lalu

Saya kutip ujarannya Geger yang melontarkan tinemunya nenek moyang dulu.

Sambang menyambangi.
Sehingga terjadilah Sambung … Pertalian. Networking

Ketika sudah Sambung lalu Srawung

Sedulut, Seduluran. 

Dan, kadang membicarakan leluhur (tradisi, adat, local value, kulture simbah2)

Previous Older Entries